Senin, 10 Maret 2008

Khawatir, Cara menjemput kematian dengan perlahan-lahan

Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabatku yang baik, semoga pekan kedua dalam bulan kedua ini, mengantarkan
kita bersama, menuju pintu gerbang istana kebaikan. Sehingga kitalah menjadi
penghuninya. Karena hanya orang baik saja boleh masuk kedalamnya.

Seorang penyair mengingatkan, Janganlah engkau meninggal sebelum ajal
menjemputmu. Pesannya barangkali sudah terbiasa kita ucapkan. Telinga sudah
amat sering mendengar bunyi nada-nada bijak itu. Tapi, sungguh hebatnya
anugerah fikiran, meskipun difahami. Walaupun sering didengar, terkadang
tanpa disadari, menjadi zombi-zombi hidup amat sering kita jalani.

Maafkanlah atas kelancangan saya. Karena amat berani untuk
mengeneralisasikan. Seolah-olah semua kita pernah menjadi zombi atau abadi.
Karena saya yakin. Saat ini, telah ada diantara shahabat benar-benar telah
menjadi manusia seutuhnya. Para sufi memberi nama, kondisi hudhur.

Berbicara mengenai ajal. Sebaik apapun persiapan kita menyambut
kedatangannya. Ia pasti akan datang pada saat telah dijanjikan. Selupa
apapun kita akan kepastian kehadirannya, hal ini menjadi wajib hukumnya.
Bagi setiap yang bernyawa, akan dijemput oleh kematian.

Ada shahabat bertanya dengan lugas. Apa yang engkau khawatirkan? Pena telah
diangkat. Ketetapan telah dituliskan. Qadha dan Qadar telah dipastikan.

Menjawab tiada yang kukhawatirkan, terkadang bentuk dari pembohongan diri.
Lisan berbunyi; aku mengkhawatirkan masa depanku, bukti kelemahan iman.
Astaqfirullah. Kami berlindung dan memohon ampun hanya kepadaMu ya Qhaffar.

Menariknya, terkadang hal-hal yang sebelum aku jalani. Aku hiasi ia dengan
rasa khawatir itu, entah dimana posisinya? Saat aku melangkah, menjalani,
dan melakukan ikhtiarku. Sehingga aku benar-benar memahami, kekhawatiran
adalah langkah-langkah bunuh diri, tahapan-tahapan menjembut kematian yang
amat perlahan-lahan.

Hal ini semakin membuatku bertanya-tanya dan mencari hakekat khawatir. Aku
duduk terdiam, mencoba menyelami kembali, setiap pos-pos kehidupan yang
pernah aku singgahi. Dari setiap episode kehidupan, aku menemukan benang
merah kehidupan : Habis Gelap terbitlah terang. Almarhum Crisye dengan indah
melantunkan, Badai pasti berlalu.

Rasa khawatir adalah hasil buah fikiran, bertujuan untuk memproteksi tubuh
dari bahaya. Sehingga ia beri signal dengan gejala-gejala : keringat, perut
perih, pandangan agak kabur, kepala senut-senut dan berbagai bentuk kreasi
lainnya.

Jika memang demikian wujudnya. Bukankah ajakan-ajakan pejalan spiritual amat
wajar untuk diikuti. Sadar.

Shahabat, khawatir adalah kejadian, masa, waktu dan ketetapan yang belum
menghadiri kita. Ia sering kita beri judul dengan hal-hal yang kurang
senang, tidak berkenan untuk kita terima. Tetapi, bukankah hal-hal yang amat
kita senangi, kita berkenan atas kedatanganya, kita menkondisikan dengan
kebahagiaan dan penuh harapan?

Seorang shahabat mengajak kita merenungi dan tinjau kembali sejenak. Bukankah
ia wujud yang sama. Yaitu peristiwa yang akan datang? Bearti, ini
adalah *persepsi
dan buah fikiran, yang dihasilkan oleh sudut pandang dan cara menyikapi akan
masa depan, betul*? Maafkan ia yang suka bertanya.

”*Aku sebagaimana prasangka hambaKu*”.

Jika memang demikian, anjuran berprasangka baik, ajakan berharap keindahan,
dan seruan berkeinginan kebaikan. Pantaslah bila kita tempatkan pada tatanan
kewajiban. Adakah sahabat yang merubah persepsi (cara menyikapi/cara
memandang) sekarang?...

--
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Mind-Therapist
www.facebook.com/rahmadsyahI YM ; rahmad_aceh

Tidak ada komentar: