Dalam hidup sehari-hari tak jarang kita mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang di sekitar kita. Entah itu secara tak sengaja atau sengaja. Baik itu masalah kecil maupun masalah besar. Di kantor misalnya, kita pernah difitnah oleh teman sejawat. Dimarahi habis-habisan oleh bos hanya karena lupa mematikan lampu saat meninggalkan ruang kerja. Atau masalah dengan pasangan kita saat lupa menepati janji atau sekedar lupa menelponnya.
Saat itu kita mungkin merasa putus asa atau ingin membalas semua perbuatan itu kepada mereka. Apa itu semua menyelesaikan masalah? Apa tidak menjadikan masalah malah runyam? Karena orang-orang itu sehari-hari dekat dengan kehidupan kita. Dan kita dituntut harus bisa bekerjasama dan hidup berdampingan secara damai dengan mereka. Lain halnya bila kita memutuskan untuk putus-hubungan dengan mereka.
Memang tidak harus begitu. Karena dalam agama Islam kita dianjurkan untuk berbuat mulia yaitu mengembangkan sikap memaafkan terhadap sesama. Apapun dan bagaimanapun kesalahan orang lain kepada kita.
Sebab dalam Al Quran, Allah berfirman: "…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)
Memang dalam Al Quran, pemahaman kita sebagai orang beriman mengenai sikap memaafkan ini sangat berbeda dengan orang yang tidak menjalani kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Islam. Meskipun banyak orang berkata bahwa mereka telah memaafkan orang yang telah menyakitinya, namun kenyataannya mereka sulit membebaskan diri dari perasaan benci dan marah. Sehingga cenderung menyimpan rasa benci dan marah itu, sehingga membuat kehidupan mereka jadi tidak nyaman selamanya. Dan bisa jadi, suatu saat semua rasa itu akan meledak.
Tetapi di lain pihak, kita sebagai orang yang beriman sikap memaafkan kita adalah tulus. Karena kita tahu bahwa sebenarnya kita sedang diuji oleh Allah. Kita akan mendapat hikmah dengan belajar dari kesalahan orang lain. Dengan syarat bila kita menjadikan diri ini ikhlas karena Allah, berlapang dada dan mempunyai sifat pengasih. Bukankah Allah itu Maha Penyayang lagi Maha Pengasih, yang akan mengampuni seluruh dosa kita bila saja kita mau bertobat dan mohon ampun kepadaNya?
Lebih dari itu, kita sebagai orang yang beriman juga mampu memaafkan kesalahan mereka, sekalipun kita yang benar dan mereka yang salah. Seseorang bisa saja melakukan perbuatan yang menyakiti secara tidak sengaja. Karena hidup ini sudah diatur oleh Allah sesuai dengan kehendakNya dan berjalan sesuai dengan takdirNya. Dan tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang sia-sia. Karena itu, kita harus berserah diri dan tidak boleh terbelenggu oleh amarah.
Pemberian maaf sesungguhnya memutuskan lingkaran sebab akibat itu semua, karena orang yang memaafkan dengan cinta berarti telah mengambil alih beban konsekuensi dari apa yang telah kita lakukan. Dengan demikian pemberian maaf selalu diikuti oleh sebuah pengorbanan.
Dan, semulia-mulia manusia adalah siapa yang mempunyai adab, merendahkan hati ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika mampu membalas, dan bersikap adil ketika kuat.
our perception is our projection
Memang benar adanya bahwa pemahaman kita mengenai sikap memaafkan itu akan mempengaruhi perilaku berkehidupan kita.
Salam
http://sudjatiw. wordpress. com
Selasa, 11 Maret 2008
Renungan: Tinggalkan Perasaan yang Mengekangmu
Rasakan dan nikmatilah yang ada, karena apapun akan berakhir seperti halnya juqa bermula.
Sikap hidup seperti itu baik sekali, yang membantu mengusir kegelisahan dan
dapat membantu meraih keberhasilan dalam hidup secara umum. Sikap
seperti itu juga dapat melanggengkan hubungan persahabatan dan
kebahagiaan dengan keluarga. Mereka yang berwawasan Was akan dapat
memahami kebiasaan manusia, dapat menduga perubahan, dapat memposisikan
dirinya di dalam berbagai kondisi, dan dapat memperkirakan keadaan yang
samar atau yang jelas.
Tentang kegelisahan, maka orang yang berwawasan akan dapat memahami berbagai permasalahan, dan menyadari¬nya ketika sebelumnya ia ditimpa kegelisahan yang sama, atau ketika gagal mendapatkan keinginannya. la menyadari bahwa inilah hukum
kehidupan, dan apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, hadapilah
dengan rileks.
Ya, memang sekali waktu orang tidak suka terhadap sesuatu yang sebenarnya memberikan kebaikan untuknya; terkadang ia menyukai sesuatu yang sebenarnya justru akan menyengsarakannya. Ingatlah bahwa kebaikan itu adalah apa yang dipilihkan Allah.
Sikap hidup seperti itu baik sekali, yang membantu mengusir kegelisahan dan
dapat membantu meraih keberhasilan dalam hidup secara umum. Sikap
seperti itu juga dapat melanggengkan hubungan persahabatan dan
kebahagiaan dengan keluarga. Mereka yang berwawasan Was akan dapat
memahami kebiasaan manusia, dapat menduga perubahan, dapat memposisikan
dirinya di dalam berbagai kondisi, dan dapat memperkirakan keadaan yang
samar atau yang jelas.
Tentang kegelisahan, maka orang yang berwawasan akan dapat memahami berbagai permasalahan, dan menyadari¬nya ketika sebelumnya ia ditimpa kegelisahan yang sama, atau ketika gagal mendapatkan keinginannya. la menyadari bahwa inilah hukum
kehidupan, dan apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, hadapilah
dengan rileks.
Ya, memang sekali waktu orang tidak suka terhadap sesuatu yang sebenarnya memberikan kebaikan untuknya; terkadang ia menyukai sesuatu yang sebenarnya justru akan menyengsarakannya. Ingatlah bahwa kebaikan itu adalah apa yang dipilihkan Allah.
Renungan: Yang mendapatkann kebahagiaan dengan Mudah?
Seseorang tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan kecuali dari dirinya
sendiri. Hendaknya ia membawa dirinya ke jalan keutamaan untuk
mendapatkan kebahagiaan. Intinya adalah bahwa seseorang harus menjadi
pemberani, mencintai pekerjaan dan manusia yang ada di sekelilingnya.
Hendaknya ia bekerja sama dengan mereka, tidak mementingkan diri
sendiri dan selalu menghidupkan nurani di setiap geraknya. Kebahagiaan
bukanlah mimpi, ia adalah fenomena nyata dan banyak orang yang
merasakannya.
sendiri. Hendaknya ia membawa dirinya ke jalan keutamaan untuk
mendapatkan kebahagiaan. Intinya adalah bahwa seseorang harus menjadi
pemberani, mencintai pekerjaan dan manusia yang ada di sekelilingnya.
Hendaknya ia bekerja sama dengan mereka, tidak mementingkan diri
sendiri dan selalu menghidupkan nurani di setiap geraknya. Kebahagiaan
bukanlah mimpi, ia adalah fenomena nyata dan banyak orang yang
merasakannya.
Tips Mengelola Emosi Marah
Marah... 5 huruf terukir dari 2 huruf vokal dan ditemani 3 konsonan. Marah adalah fitrah manusia, Allah titipkan perasaan itu dalam diri kita. Tentu apapun
penciptaan pada diri manusia, tiadalah sia-sia dijadikanNya.
Berapakali anda MARAH, sehingga menjadi pembelajaran hidup bagi anda,akibat kemarahan Anda....?”
Tips untuk mengelola emosi marah:
Apa yang saya inginkan dari kondisi (perasaan *marah*) ini?
Apakah ini (*marah*) bermanfaat bagi saya?
Setiap kejadian (pemicu *marah*) pasti ada hikmahnya,Apa hikmahnya bagi saya?
Apa akibatnya jika saya terus *marah*?
Bagaimana sewajarnya saya menyikapi persoalan, yang membuat saya *Marah*?
Dengam menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, mudah2n kita sadar mengapa harus marah??cobalah tetap tenang dan damai. Mungkin saja cara ini belum tentu cocok buat anda, tapi keberhasilan suatu cara belum tentu terbukti berhasil sebelum kita mencobanya.
Selamat mencoba, semoda kita lebih sabar dan bahagia.
penciptaan pada diri manusia, tiadalah sia-sia dijadikanNya.
Berapakali anda MARAH, sehingga menjadi pembelajaran hidup bagi anda,akibat kemarahan Anda....?”
Tips untuk mengelola emosi marah:
Apa yang saya inginkan dari kondisi (perasaan *marah*) ini?
Apakah ini (*marah*) bermanfaat bagi saya?
Setiap kejadian (pemicu *marah*) pasti ada hikmahnya,Apa hikmahnya bagi saya?
Apa akibatnya jika saya terus *marah*?
Bagaimana sewajarnya saya menyikapi persoalan, yang membuat saya *Marah*?
Dengam menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, mudah2n kita sadar mengapa harus marah??cobalah tetap tenang dan damai. Mungkin saja cara ini belum tentu cocok buat anda, tapi keberhasilan suatu cara belum tentu terbukti berhasil sebelum kita mencobanya.
Selamat mencoba, semoda kita lebih sabar dan bahagia.
KUMPULAN ANEKDOT KENANG-KENANGAN DARI GUS DUR
Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang ceplas-ceplos dan senang humor, nyaris di setiap omongannya Gus Dur selalu mampu memancing tawa hadirin. Ada yang tersenyum senang adapula yang tersenyum kecut karena merasa tersindir.
Kesan humoris benar-benar terasa di hampir semua liputan Kabari tentang sosok yang satu ini. Termasuk ketika Kabari bertemu Gus Dur di tahun 2007 dalam sebuah acara.
Bahkan Gus Dur ketika itu mau membagi sebuah anekdotnya khusus untuk Pembaca Kabari yang kemudian dimuat dengan judul “Do You Like Salad?”.
Berikut ini beberapa anekdot dari Gus Dur yang disampaikan beliau dalam beberapa kesempatan terpisah,
Kuli Dan Kyai
Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.
Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!
Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: "Lho kenapa Anda berkerumun di sini?"
"Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.
BABI HARAM
Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm ... babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm ... babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!
Humor DPR
Ini guyonan tentang prilaku anggota DPR RI. Sempat menyebut mereka sebagai anak TK, Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah 'turun pangkat' setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.
"DPR dulu TK sekarang playgroup," kata Gus Dur di kediamannya di Ciganjur, Jakarta, Selatan, Kamis (17/03), ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang Rabu (16/03).
Media Salah Kutip
Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya, menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.
Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura. Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.
Gus Dur Dan Orang Mati
Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela "ideologi"nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.
Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.
"Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi." katanya.
Do You Like Salad?
Rombongan istri pejabat Indonesia pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.
“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan
Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.
Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”
Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”
(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).
Humor NU
Bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.
"Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," jelasnya tentang jenis yang pertama.
Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, "Itu namanya orang gila NU."
"Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila," kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.
Humor Polisi
Humor lain yang diingat banyak orang adalah kritikan dalam bentuk lelucon yang dilontarkan saat banyak pihak mempertanyakan moralitas polisi, yang masih bisa berlaku dengan saat sekarang walaupun humor ini dilontarkannya setahun silam.
"Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur," selorohnya.
Humor Umat Beragama
Dalam sebauh Seminar di Batam. Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.
"Oleh karena itu seluruh umat bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan," kata Gus Dur disambut tawa peserta.
Humor Jihad
Menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga Muslim yang percaya kematiannya akan 'menjamin' tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.
"Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?" tanya seorang wartawan kepada Gus Dur.
Gus Dur pun menjawab, "Memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi."
Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?34310
ABOUT THE AUTHOR
Yayat Suratmo
Kesan humoris benar-benar terasa di hampir semua liputan Kabari tentang sosok yang satu ini. Termasuk ketika Kabari bertemu Gus Dur di tahun 2007 dalam sebuah acara.
Bahkan Gus Dur ketika itu mau membagi sebuah anekdotnya khusus untuk Pembaca Kabari yang kemudian dimuat dengan judul “Do You Like Salad?”.
Berikut ini beberapa anekdot dari Gus Dur yang disampaikan beliau dalam beberapa kesempatan terpisah,
Kuli Dan Kyai
Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.
Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!
Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: "Lho kenapa Anda berkerumun di sini?"
"Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.
BABI HARAM
Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm ... babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm ... babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!
Humor DPR
Ini guyonan tentang prilaku anggota DPR RI. Sempat menyebut mereka sebagai anak TK, Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah 'turun pangkat' setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.
"DPR dulu TK sekarang playgroup," kata Gus Dur di kediamannya di Ciganjur, Jakarta, Selatan, Kamis (17/03), ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang Rabu (16/03).
Media Salah Kutip
Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya, menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.
Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura. Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.
Gus Dur Dan Orang Mati
Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela "ideologi"nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.
Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.
"Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi." katanya.
Do You Like Salad?
Rombongan istri pejabat Indonesia pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.
“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan
Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.
Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”
Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”
(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).
Humor NU
Bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.
"Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," jelasnya tentang jenis yang pertama.
Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, "Itu namanya orang gila NU."
"Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila," kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.
Humor Polisi
Humor lain yang diingat banyak orang adalah kritikan dalam bentuk lelucon yang dilontarkan saat banyak pihak mempertanyakan moralitas polisi, yang masih bisa berlaku dengan saat sekarang walaupun humor ini dilontarkannya setahun silam.
"Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur," selorohnya.
Humor Umat Beragama
Dalam sebauh Seminar di Batam. Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.
"Oleh karena itu seluruh umat bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan," kata Gus Dur disambut tawa peserta.
Humor Jihad
Menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga Muslim yang percaya kematiannya akan 'menjamin' tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.
"Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?" tanya seorang wartawan kepada Gus Dur.
Gus Dur pun menjawab, "Memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi."
Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?34310
ABOUT THE AUTHOR
Yayat Suratmo
Pernah gak sih...
Pernah gak sih..…
Lihat orang yang hobi banget membunyikan klakson mobilnya dengan membabi buta?
Ketemu kasir atau customer service yang jutek abisss?
Punya temen kantor yang kerjaannya curhaaat melulu?
Biasanya setelah kejadian-kejadian seperti itu, kita bisa langsung bad mood seharian. Akibatnya? Kerjaan nggak beres-beres, bete, stress, adaaa aja yang salah.
Kenapa harus diri kita yang jadi korban bad mood cuma gara-gara ulah orang-orang yang menyebalkan? Bad mood atau pikiran negatif bisa bikin jauh rejeki loo, seperti yang diulas artikel berjudul Magnet Profit Bisnis Anda di http://www.dexton. adexindo. com
Gimana caranya supaya ulah orang-orang yang menyebalkan tidak merusak mood kita?
Pelajari situasi yang menyebalkan. Bagaimana reaksi kita? Terganggu, sedikit kesal, marah atau jadi frustasi??
Tarik nafas panjang dan jangan berada pada reaksi pertama terlalu lama. Anda mungkin tidak bisa menghindari emosi anda secara insting. Tetapi segera keluar dari situ karena jika anda terlalu lama emosi tersebut akan bertambah besar dan akan sulit untuk melakukan langkah selanjutnya.
Caranya? Pahami bahwa orang dibalik kejadian menyebalkan tersebut adalah juga manusia seperti anda. Dan sama seperti dia kita juga pasti pernah menjadi sebab kekesalan orang lain, kita semua pernah mengalami hari yang buruk dan bersikap sangat tidak menyenangkan. Beri sebuah cerita atau alasan, ceritanya bisa lucu aneh ataupun bersimpati.
Mobil anda diserempet atau dipotong mobil lain? Mungkin pengemudinya lagi diare.
Ketemu kasir yang jutek ? Mungkin baru diputusin pacarnya, kontrakannya sudah habis dia belum bisa bayar dan sudah tiga hari kerja nonstop ditambah overtime.
Alasan-alasan ini mungkin bukan pemicu sebenarnya dari tindakan mereka, tetapi intinya kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada kehidupan orang lain
Jadi anda tidak perlu reaktif terhadap hal-hal yang menyebalkan. Tidak berusaha membalas hal negatif dengan negatif juga, hingga anda tetap bisa menjaga mood anda.
Bagaimanapun situasi yang anda alami, hari anda harus selalu menyenangkan.
Tetap Semangat!!
Rosa S Rustam (Ocha)
biz-and-career- only-at
http://www.dexton. adexindo. com
Lihat orang yang hobi banget membunyikan klakson mobilnya dengan membabi buta?
Ketemu kasir atau customer service yang jutek abisss?
Punya temen kantor yang kerjaannya curhaaat melulu?
Biasanya setelah kejadian-kejadian seperti itu, kita bisa langsung bad mood seharian. Akibatnya? Kerjaan nggak beres-beres, bete, stress, adaaa aja yang salah.
Kenapa harus diri kita yang jadi korban bad mood cuma gara-gara ulah orang-orang yang menyebalkan? Bad mood atau pikiran negatif bisa bikin jauh rejeki loo, seperti yang diulas artikel berjudul Magnet Profit Bisnis Anda di http://www.dexton. adexindo. com
Gimana caranya supaya ulah orang-orang yang menyebalkan tidak merusak mood kita?
Pelajari situasi yang menyebalkan. Bagaimana reaksi kita? Terganggu, sedikit kesal, marah atau jadi frustasi??
Tarik nafas panjang dan jangan berada pada reaksi pertama terlalu lama. Anda mungkin tidak bisa menghindari emosi anda secara insting. Tetapi segera keluar dari situ karena jika anda terlalu lama emosi tersebut akan bertambah besar dan akan sulit untuk melakukan langkah selanjutnya.
Caranya? Pahami bahwa orang dibalik kejadian menyebalkan tersebut adalah juga manusia seperti anda. Dan sama seperti dia kita juga pasti pernah menjadi sebab kekesalan orang lain, kita semua pernah mengalami hari yang buruk dan bersikap sangat tidak menyenangkan. Beri sebuah cerita atau alasan, ceritanya bisa lucu aneh ataupun bersimpati.
Mobil anda diserempet atau dipotong mobil lain? Mungkin pengemudinya lagi diare.
Ketemu kasir yang jutek ? Mungkin baru diputusin pacarnya, kontrakannya sudah habis dia belum bisa bayar dan sudah tiga hari kerja nonstop ditambah overtime.
Alasan-alasan ini mungkin bukan pemicu sebenarnya dari tindakan mereka, tetapi intinya kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada kehidupan orang lain
Jadi anda tidak perlu reaktif terhadap hal-hal yang menyebalkan. Tidak berusaha membalas hal negatif dengan negatif juga, hingga anda tetap bisa menjaga mood anda.
Bagaimanapun situasi yang anda alami, hari anda harus selalu menyenangkan.
Tetap Semangat!!
Rosa S Rustam (Ocha)
biz-and-career- only-at
http://www.dexton. adexindo. com
Senin, 10 Maret 2008
Makna Hidup
Menurut Wiliam James, seseorang dikatakan meliki makna Hidup, jika:
dalam hidup ini, Apakah ada orang yang anda CINTA ? Apakah anda memliki hal
yang bisa anda KERJAKAN ? Apakah anda memiliki HARAPAN ?
Bila jawaban Ya, maka anda meliki makna Hidup
dalam hidup ini, Apakah ada orang yang anda CINTA ? Apakah anda memliki hal
yang bisa anda KERJAKAN ? Apakah anda memiliki HARAPAN ?
Bila jawaban Ya, maka anda meliki makna Hidup
Harapan tiada Yang Sia-sia
Harapan adalah Bahan bakarnya cita-cita. Yang mengerakkan badan untuk
bertindak. Dan putus asa menyapa kepada yang Bahan bakarnya telah
habis. Bukankah Kita masih ingat dengan firman Allah. *Bisa jadi apa-apa yang kamu anggap baik, belum tentu itu baik disisi Allah. dan Apa-apa yang kamu anggap tidak
baik, justru itulah yang terbaik bagi Allah... *
Jikalau memang seperti itu, manalah mungkin Allah menciptakan dan menjadikan
takdir kita tanpa kesia-siaan? Itu cara kerja Sunatullah.
*Terkadang kegagalan itu sengaja Allah hadirkan bagi kita, walau mungkin segenap
persiapan sudah kita rangcang sebelumnya*. *Karena Allah ingin mengabari
kepada kita,* *Bahwa terwujud dan terjadinya harapan kita itu, bukanlah
andil kita semata, Melainkan ada wewenang Allah disana...*
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan)
sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu
jadilah ia. (QS. 2:117).
Oleh karena itu, Mari kita bersama-sama tetap menatap harapan indah didepan
kita. Walau mungkin kita melihat sebongkah cahaya kecil diatas bukit
kegegelapan. Sunguh Allah mengbulkan doa-doa dalam prasangka hambaNya.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah [2] : 186)
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Trauma Therapist
www.rahmadsyah.co.cc I YM ; rahmad_aceh
bertindak. Dan putus asa menyapa kepada yang Bahan bakarnya telah
habis. Bukankah Kita masih ingat dengan firman Allah. *Bisa jadi apa-apa yang kamu anggap baik, belum tentu itu baik disisi Allah. dan Apa-apa yang kamu anggap tidak
baik, justru itulah yang terbaik bagi Allah... *
Jikalau memang seperti itu, manalah mungkin Allah menciptakan dan menjadikan
takdir kita tanpa kesia-siaan? Itu cara kerja Sunatullah.
*Terkadang kegagalan itu sengaja Allah hadirkan bagi kita, walau mungkin segenap
persiapan sudah kita rangcang sebelumnya*. *Karena Allah ingin mengabari
kepada kita,* *Bahwa terwujud dan terjadinya harapan kita itu, bukanlah
andil kita semata, Melainkan ada wewenang Allah disana...*
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan)
sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu
jadilah ia. (QS. 2:117).
Oleh karena itu, Mari kita bersama-sama tetap menatap harapan indah didepan
kita. Walau mungkin kita melihat sebongkah cahaya kecil diatas bukit
kegegelapan. Sunguh Allah mengbulkan doa-doa dalam prasangka hambaNya.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah [2] : 186)
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Trauma Therapist
www.rahmadsyah.co.cc I YM ; rahmad_aceh
Menghindari Mabuk Dalam Perjalanan
dear para pendidik dan orangtua,
Apakah bapak atau ibu sering menghadapi anak yang sering mabuk dalam perjalanan naik mobil atau bis? Atau bahkan kita sendiri??
Ternyata mabuk itu ada hubungannya denngan keseimbangan tubuh kita.
Nah, di telinga kiri dan kanan ada tempat yang menjaga keseimbangan. Kendaraan yang kita tumpangi mengguncangkan tempat tersebut sehingga alat keseimbangan tidak bisa bekerja. Dengan demikian kita jadi pusing atau mabuk.
Mabuk bisa dihindari, kok! Caranya? Jangan makan, persis sebelum mengadakan perjalanan. Sebaiknya, kamu makan satu jam sebelum berangkat. Jadi, perut tidak terlalu penuh dan bisa mengurangi rasa mual.
Kondisi tubuh yang sehat dan segar dapat mencegah mabuk. Karena itu, tidur atau istirahat sebelum perjalanan dimulai.
Jika mengadakan perjalanan dengan naik kapal, kamu bisa menjaga agar tidak mabuk dengan memandang sesuatu yang jauh. Ingat, yah, bukan memandang ke permukaan laut. Hal itu malah bikin kita tambah pusing.
Semakin sering kita bepergian, alat keseimbangan yang ada di tubuh pun akan terbiasa dengan guncangan. Itu berarti, kita tidak akan mabuk lagi!
Artikel ini dapat dilihat di : http://kidnesia. com/Kidnesia/ Sekitar-Kita/ Tubuh-Kita/ Huuek-Aku- Mabuk!
Apakah bapak atau ibu sering menghadapi anak yang sering mabuk dalam perjalanan naik mobil atau bis? Atau bahkan kita sendiri??
Ternyata mabuk itu ada hubungannya denngan keseimbangan tubuh kita.
Nah, di telinga kiri dan kanan ada tempat yang menjaga keseimbangan. Kendaraan yang kita tumpangi mengguncangkan tempat tersebut sehingga alat keseimbangan tidak bisa bekerja. Dengan demikian kita jadi pusing atau mabuk.
Mabuk bisa dihindari, kok! Caranya? Jangan makan, persis sebelum mengadakan perjalanan. Sebaiknya, kamu makan satu jam sebelum berangkat. Jadi, perut tidak terlalu penuh dan bisa mengurangi rasa mual.
Kondisi tubuh yang sehat dan segar dapat mencegah mabuk. Karena itu, tidur atau istirahat sebelum perjalanan dimulai.
Jika mengadakan perjalanan dengan naik kapal, kamu bisa menjaga agar tidak mabuk dengan memandang sesuatu yang jauh. Ingat, yah, bukan memandang ke permukaan laut. Hal itu malah bikin kita tambah pusing.
Semakin sering kita bepergian, alat keseimbangan yang ada di tubuh pun akan terbiasa dengan guncangan. Itu berarti, kita tidak akan mabuk lagi!
Artikel ini dapat dilihat di : http://kidnesia. com/Kidnesia/ Sekitar-Kita/ Tubuh-Kita/ Huuek-Aku- Mabuk!
Renungan: Sekali Berbuat, Pahala Selamanya.
Siang itu, saat bersiap sholat dhuhur berjamaah dengan murid-murid di sekolah, seorang kawan guru mendadak maju ke depan. Saya katakan mendadak karena iqomah sudah dikumandangkan, dan imam juga sudah berada di posisinya.
Pak guru rekan saya itu memerintahkan semua siswa mengatur shof yang lurus dan rapat. Beliau menjelaskan posisi barisan yang benar dalam sholat. Beliau juga meminta seorang siswa mempraktekkan sujud di depan teman-temannya dan lalu beliau menjelaskan posisi sujud yang benar. Yang masih salah dikoreksi dan diberikan contoh gerakan sholat yang benar. Wow, pelajaran praktek sholat yang singkat tapi padat itu tentu saja mengesankan semua siswa yang ada di situ, karena ini mudah dilihat dan ditiru.
Saya teringat hadits Nabi, ketika manusia mati, semua amalnya terputus kecuali 3 hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendoakan.
Guru berpeluang besar mengajarkan banyak ilmu yang bermanfaat. Yang meskipun nanti dirinya sudah meninggal dunia, selama yang diajar terus mengamalkan ilmu tersebut maka guru tersebut akan mendapatkan (kiriman) pahalanya. Luar biasa. Inilah kelebihan profesi guru yang jarang dimiliki orang yang bekerja di sektor lain...
Saya dan Anda semua pastinya merasakan, banyak kebaikan yang kita amalkan sekarang adalah buah dari pendidikan dan ilmu yang diajarkan para guru kita terdahulu. Mudah-mudahan mereka juga mendapatkan pahala, atas ilmu bermanfaat yang dulu sudah beliau-beliau ajarkan.
Makanya, sebagai guru, ayo kita berlomba terus menerus mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Pertama, karena memang itulah tugas dan kewajiban para guru. Kedua, ada harapan besar, para siswa akan mengamalkan kebaikan yang sudah kita ajarkan, dan itulah buah pahala yang Insya Alloh terus mengalir meski kita sudah meninggal kelak. Oh, betapa bahagianya menjadi guru..
Salam mengajar ikhlas,
/MI
Mohammad Ihsan
Sekjen Ikatan Guru Indonesia
Pak guru rekan saya itu memerintahkan semua siswa mengatur shof yang lurus dan rapat. Beliau menjelaskan posisi barisan yang benar dalam sholat. Beliau juga meminta seorang siswa mempraktekkan sujud di depan teman-temannya dan lalu beliau menjelaskan posisi sujud yang benar. Yang masih salah dikoreksi dan diberikan contoh gerakan sholat yang benar. Wow, pelajaran praktek sholat yang singkat tapi padat itu tentu saja mengesankan semua siswa yang ada di situ, karena ini mudah dilihat dan ditiru.
Saya teringat hadits Nabi, ketika manusia mati, semua amalnya terputus kecuali 3 hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendoakan.
Guru berpeluang besar mengajarkan banyak ilmu yang bermanfaat. Yang meskipun nanti dirinya sudah meninggal dunia, selama yang diajar terus mengamalkan ilmu tersebut maka guru tersebut akan mendapatkan (kiriman) pahalanya. Luar biasa. Inilah kelebihan profesi guru yang jarang dimiliki orang yang bekerja di sektor lain...
Saya dan Anda semua pastinya merasakan, banyak kebaikan yang kita amalkan sekarang adalah buah dari pendidikan dan ilmu yang diajarkan para guru kita terdahulu. Mudah-mudahan mereka juga mendapatkan pahala, atas ilmu bermanfaat yang dulu sudah beliau-beliau ajarkan.
Makanya, sebagai guru, ayo kita berlomba terus menerus mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Pertama, karena memang itulah tugas dan kewajiban para guru. Kedua, ada harapan besar, para siswa akan mengamalkan kebaikan yang sudah kita ajarkan, dan itulah buah pahala yang Insya Alloh terus mengalir meski kita sudah meninggal kelak. Oh, betapa bahagianya menjadi guru..
Salam mengajar ikhlas,
/MI
Mohammad Ihsan
Sekjen Ikatan Guru Indonesia
Terapi ; Hampa dan Kekosongan Diri
Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabat saya yang terkasih. Semoga setelah kita menghabis masa libur
bersama keluarga, teman, dan shahabat. Allah berikan kepada kita kekuatan
yang lebih besar, dari peristirahatan kita kemarin. Sehingga kita menjadi
pribadi yang lebih kuat dan prima hari ini. Untuk membangun tangga-tangga
sejarah, menuju impian yang kita idamkan.
Tiga hari yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman. Dari pembicaraan
itu, ada hal yang membuat saya bertanya-tanya *”How can it be”*. Teman saya
menyampaikan, *”terkadang ada saat nya, kami menangis dan tertawa tanpa
alasan yang jelas. Karena dengan menangis itu sendiri, bisa membuat masalah
lebih mereda”.*
Sungguh kondisi itu, membuat saya penasaran. Bagaimana bisa air mata jatuh
tanpa alasan yang jelas, hanya kepingin saja. Mungkin itu pernah anda alami.
Saya tidak tau bagaimana itu bisa. Tapi, terkadang itu terjadi kepada siapa
saja. Sehingga untuk memahami kondisi ini. Saya berusaha untuk mengalami apa
yang disampaikan oleh teman saya.
Kemudian, saya lakukan salah satu tehnik yang dibahas di *Mind-Design
Therapy.* Yaitu untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan
tehnik ini pula, seolah-olah kita bisa tau apa yang difikirkan orang lain.
Benar saja, tiba-tiba saya seperti mau menangis, mata saya berkaca-kaca.
Sementara itu, Saya mencoba bertanya kepada diri untuk memahami, bagaimana
ini bisa terjadi? Entah bagaimana, saya jadi teringat pesan guru saya
di *Ponpes
NLP Pasar Minggu*. *”Jika kamu pernah bertanya kepada dirimu, bagaimana ini
bisa terjadi? Itu menandakan, bahwa kamu tidak SADAR akan dirimu
sendiri”*. Lalu,
saya praktekkan latihan KESADARAN, antara keberadaan tubuh, fikiran dan
perasaan yang timbul tenggelam dalam diri saya.
Akhirnya saya pun menyadari, apa yang terjadi pada diri saya. Menangis tanpa
sebab yang jelas, karena adanya ke*HAMPA*an dan *KEKOSONGAN* diri. Lebih
dalam lagi saya menggali, kehampaan ini muncul karena memikirkan sesuatu
yang diinginkan, namun belum terjadi. Tapi, bila kita mau jujur kepada diri
sendiri, sebenarnya hal itu belum terjadi, karena kita belum melakukannya.
Ketidakmampuan untuk melakukan ini, bisa dikarenakan faktor intenal dan
faktor ekternal. Faktor internal karena belum berani, malu atau mungkin
karena tanpa ada alasan yang jelas. Sementara, faktor external mungkin bisa
disebabkan oleh banyak hal. Tapi, kondisi yang saya dapatkan saat itu,
karena faktor harapan, dan mempertimbangkan akan orang terdekat, yaitu
keluarga.
Selain itu juga, ada fikiran yang muncul. Seandainya apa yang saya inginkan
sudah terjadi, mungkin tidak seperti ini yang saya rasakan. Bahkan ada yang
lebih ekstrim, muncul pemikiran ; buat apa lagi aku hidup, lebih baik aku
mati.
Kembali dengan pertanyaan diatas, bagaimana ini bisa terjadi? Setelah saya
menemukan apa sebenarnya yang difikirkan dan dirasakan. Sebagai
Mind-Therapist, saya mencoba memikirkan, solusi apa yang dapat saya berikan.
Barangkali, shahabat yang baik. Juga pernah mengalami kondisi seperti
diatas. Entah itu ingin menangis tanpa alasan yang jelas, atau mungkin duduk
terdiam tidak tau mengapa. Bisa jadi mungkin bahkan hal lain. Namun, jika
ditelusuri fikiran dan persaan anda, seperti yang telah saya sebutkan
diatas. Anda boleh melakukan cara-cara ini sekarang. Saya yakin, percaya dan
sadar. Cara ini, belum tentu tepat untuk semua orang. Tapi, kita tidak
pernah tau sebelum mencoba melakukannya.
1. Ambillah posisi duduk yang nyaman dan tenang serta aman menurut anda.
2. Berdoa sesuai dengan keyakinan anda. Dengan harapan, agar apa yang
anda fikirkan dan rasakan sekarang, segera bisa kembali sebagaimana
biasanya.
3. Anda boleh melakukan ini sambil memejamkan mata anda atau sembil
menutup mata.
4. Tarik nafas yang dalam, kemudian tahan sejenak dan hembuskan. Lakukan
sebanyak 7 kali.
5. Sadari keberadaan tubuh, dari rambut, sampai keujung kaki. Bila anda
belum terbiasa, boleh gunakan tangan untuk membantu. Dengan mengusap seluruh
tubuh...
6. Sambil anda menyadari keberadaan tubuh. Pusatkan fikiran dan perasaan
anda kepada anggota tubuh yang anda usap/sentuh. Hadirkan kesyukuran,
fikirkan itu.
7. Kemudian rasakan syukur itu, perbesar rasa syukur. Boleh sambil
berlafadz, Alhamdulillah. (*Saat memperbesar rasa syukur ini, anda boleh
perlambat usapan tangan anda pada tubuh, agar bentuk dan rasa syukurnya
lebih mengena*.)
*Bisa jadi, pada saat rasa syukur diperbesar. Anda akan menangis, atau ingin
sujud syukur, atau bahkan melihat semacam ada cahaya putih. Ikuti saja
keinginan dan nikmati saja kondisi itu.*
1. Berdoalah kepada Allah. Mohon untuk diberikan solusi dari
masalah-masalah anda. Mohon agar apa yang anda cita-citakan / inginkan,
segera diwujudkan dan dikabulkan oleh Allah.
2. Buka mata anda, ucapkan Alhamdulillah dengan penuh rasa syukur yang
dalam. Sambil tersenyum.
Shahabat yang terkasih. Bisa jadi hal-hal yang kita anggap itu lebih baik
bagi kita, mungkin saja belum tentu baik bagi Allah. Terkadang kita
menganggap, jika yang kita mau itu tercapai, maka akan membuat kita lebih
bahagia. Tapi, beberapa moment sudah kita lewati, itu akan menjadi biasa
saja setelah tergapai, karena kita membuat perbandingan baru yang lebih
besar.
Jika ada rasa khawatir dan belum muncul keberanian dalam tindakan, mungkin
bisa membaca artikel saya sebelumnya tentang (*Khawatir ; cara menjemput
ajal dengan perlahan-lahan
*).
Selamat mempraktekkan dan semoga bermanfaat. Jika anda mendapat hasil dan
cara ini efektif bagi anda. Sampaikan / sharekan kepada teman-teman dan
shahabat yang membutuhkan. Note ini sangat diizinkan untuk di Copy paste...
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Mind-Therapist
www.facebook.com/rahmadsyahI YM ; rahmad_aceh
Shahabat saya yang terkasih. Semoga setelah kita menghabis masa libur
bersama keluarga, teman, dan shahabat. Allah berikan kepada kita kekuatan
yang lebih besar, dari peristirahatan kita kemarin. Sehingga kita menjadi
pribadi yang lebih kuat dan prima hari ini. Untuk membangun tangga-tangga
sejarah, menuju impian yang kita idamkan.
Tiga hari yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman. Dari pembicaraan
itu, ada hal yang membuat saya bertanya-tanya *”How can it be”*. Teman saya
menyampaikan, *”terkadang ada saat nya, kami menangis dan tertawa tanpa
alasan yang jelas. Karena dengan menangis itu sendiri, bisa membuat masalah
lebih mereda”.*
Sungguh kondisi itu, membuat saya penasaran. Bagaimana bisa air mata jatuh
tanpa alasan yang jelas, hanya kepingin saja. Mungkin itu pernah anda alami.
Saya tidak tau bagaimana itu bisa. Tapi, terkadang itu terjadi kepada siapa
saja. Sehingga untuk memahami kondisi ini. Saya berusaha untuk mengalami apa
yang disampaikan oleh teman saya.
Kemudian, saya lakukan salah satu tehnik yang dibahas di *Mind-Design
Therapy.* Yaitu untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan
tehnik ini pula, seolah-olah kita bisa tau apa yang difikirkan orang lain.
Benar saja, tiba-tiba saya seperti mau menangis, mata saya berkaca-kaca.
Sementara itu, Saya mencoba bertanya kepada diri untuk memahami, bagaimana
ini bisa terjadi? Entah bagaimana, saya jadi teringat pesan guru saya
di *Ponpes
NLP Pasar Minggu*. *”Jika kamu pernah bertanya kepada dirimu, bagaimana ini
bisa terjadi? Itu menandakan, bahwa kamu tidak SADAR akan dirimu
sendiri”*. Lalu,
saya praktekkan latihan KESADARAN, antara keberadaan tubuh, fikiran dan
perasaan yang timbul tenggelam dalam diri saya.
Akhirnya saya pun menyadari, apa yang terjadi pada diri saya. Menangis tanpa
sebab yang jelas, karena adanya ke*HAMPA*an dan *KEKOSONGAN* diri. Lebih
dalam lagi saya menggali, kehampaan ini muncul karena memikirkan sesuatu
yang diinginkan, namun belum terjadi. Tapi, bila kita mau jujur kepada diri
sendiri, sebenarnya hal itu belum terjadi, karena kita belum melakukannya.
Ketidakmampuan untuk melakukan ini, bisa dikarenakan faktor intenal dan
faktor ekternal. Faktor internal karena belum berani, malu atau mungkin
karena tanpa ada alasan yang jelas. Sementara, faktor external mungkin bisa
disebabkan oleh banyak hal. Tapi, kondisi yang saya dapatkan saat itu,
karena faktor harapan, dan mempertimbangkan akan orang terdekat, yaitu
keluarga.
Selain itu juga, ada fikiran yang muncul. Seandainya apa yang saya inginkan
sudah terjadi, mungkin tidak seperti ini yang saya rasakan. Bahkan ada yang
lebih ekstrim, muncul pemikiran ; buat apa lagi aku hidup, lebih baik aku
mati.
Kembali dengan pertanyaan diatas, bagaimana ini bisa terjadi? Setelah saya
menemukan apa sebenarnya yang difikirkan dan dirasakan. Sebagai
Mind-Therapist, saya mencoba memikirkan, solusi apa yang dapat saya berikan.
Barangkali, shahabat yang baik. Juga pernah mengalami kondisi seperti
diatas. Entah itu ingin menangis tanpa alasan yang jelas, atau mungkin duduk
terdiam tidak tau mengapa. Bisa jadi mungkin bahkan hal lain. Namun, jika
ditelusuri fikiran dan persaan anda, seperti yang telah saya sebutkan
diatas. Anda boleh melakukan cara-cara ini sekarang. Saya yakin, percaya dan
sadar. Cara ini, belum tentu tepat untuk semua orang. Tapi, kita tidak
pernah tau sebelum mencoba melakukannya.
1. Ambillah posisi duduk yang nyaman dan tenang serta aman menurut anda.
2. Berdoa sesuai dengan keyakinan anda. Dengan harapan, agar apa yang
anda fikirkan dan rasakan sekarang, segera bisa kembali sebagaimana
biasanya.
3. Anda boleh melakukan ini sambil memejamkan mata anda atau sembil
menutup mata.
4. Tarik nafas yang dalam, kemudian tahan sejenak dan hembuskan. Lakukan
sebanyak 7 kali.
5. Sadari keberadaan tubuh, dari rambut, sampai keujung kaki. Bila anda
belum terbiasa, boleh gunakan tangan untuk membantu. Dengan mengusap seluruh
tubuh...
6. Sambil anda menyadari keberadaan tubuh. Pusatkan fikiran dan perasaan
anda kepada anggota tubuh yang anda usap/sentuh. Hadirkan kesyukuran,
fikirkan itu.
7. Kemudian rasakan syukur itu, perbesar rasa syukur. Boleh sambil
berlafadz, Alhamdulillah. (*Saat memperbesar rasa syukur ini, anda boleh
perlambat usapan tangan anda pada tubuh, agar bentuk dan rasa syukurnya
lebih mengena*.)
*Bisa jadi, pada saat rasa syukur diperbesar. Anda akan menangis, atau ingin
sujud syukur, atau bahkan melihat semacam ada cahaya putih. Ikuti saja
keinginan dan nikmati saja kondisi itu.*
1. Berdoalah kepada Allah. Mohon untuk diberikan solusi dari
masalah-masalah anda. Mohon agar apa yang anda cita-citakan / inginkan,
segera diwujudkan dan dikabulkan oleh Allah.
2. Buka mata anda, ucapkan Alhamdulillah dengan penuh rasa syukur yang
dalam. Sambil tersenyum.
Shahabat yang terkasih. Bisa jadi hal-hal yang kita anggap itu lebih baik
bagi kita, mungkin saja belum tentu baik bagi Allah. Terkadang kita
menganggap, jika yang kita mau itu tercapai, maka akan membuat kita lebih
bahagia. Tapi, beberapa moment sudah kita lewati, itu akan menjadi biasa
saja setelah tergapai, karena kita membuat perbandingan baru yang lebih
besar.
Jika ada rasa khawatir dan belum muncul keberanian dalam tindakan, mungkin
bisa membaca artikel saya sebelumnya tentang (*Khawatir ; cara menjemput
ajal dengan perlahan-lahan
*).
Selamat mempraktekkan dan semoga bermanfaat. Jika anda mendapat hasil dan
cara ini efektif bagi anda. Sampaikan / sharekan kepada teman-teman dan
shahabat yang membutuhkan. Note ini sangat diizinkan untuk di Copy paste...
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Mind-Therapist
www.facebook.com/rahmadsyahI YM ; rahmad_aceh
Sudah Tepatkah Karir yang sedang Anda Kerjakan Sekarang?
Berikut ini, kontemplasi diri terhadap apa yang kita kerjakan selama ini.
1. Apakah yang anda kerjakan sekarang membuat anda terus memikirkannya?
2. Apakah aktivitas anda saat ini menjadikan anda bangun pagi-pagi sekali
untuk bersegera mengerjakannya?
3. Apakah yang anda kerjakan waktu ini, membuat anda pulang terlambat
karena menyelsaikan tugas. Dikarenakan tidak ingin menundanya samapi besok?
4. Apakah yang anda kerjakan menghasilkan manfaat bagi orang banyak?
5. Apakah anda merasa BAHAGIA tanpa beban apapun, dalam mengerjakan nya?
6. Apakah anda tetap mau melaksanakan aktivitas anda, walau tanpa
dibayar?
7. Apakah hasil kerja anda, menjadikan orang-orang memberikan feedback
kepada Anda "Oh ya".."Wow mantap ya"..."terima kasih"..."Untung ada
anda"...?
Apabila anda sudah bisa menjawab nya dengan 'Iya" maka anda pasti BERHASIL
dan BAHAGIA dalam karir anda.
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Trauma Therapist
www.rahmadsyah.co.cc I YM ; rahmad_aceh
1. Apakah yang anda kerjakan sekarang membuat anda terus memikirkannya?
2. Apakah aktivitas anda saat ini menjadikan anda bangun pagi-pagi sekali
untuk bersegera mengerjakannya?
3. Apakah yang anda kerjakan waktu ini, membuat anda pulang terlambat
karena menyelsaikan tugas. Dikarenakan tidak ingin menundanya samapi besok?
4. Apakah yang anda kerjakan menghasilkan manfaat bagi orang banyak?
5. Apakah anda merasa BAHAGIA tanpa beban apapun, dalam mengerjakan nya?
6. Apakah anda tetap mau melaksanakan aktivitas anda, walau tanpa
dibayar?
7. Apakah hasil kerja anda, menjadikan orang-orang memberikan feedback
kepada Anda "Oh ya".."Wow mantap ya"..."terima kasih"..."Untung ada
anda"...?
Apabila anda sudah bisa menjawab nya dengan 'Iya" maka anda pasti BERHASIL
dan BAHAGIA dalam karir anda.
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Trauma Therapist
www.rahmadsyah.co.cc I YM ; rahmad_aceh
Renungan: Sayangilah IBU kita
Cintailah Mama kita sebagai mana kita mencitai diri kita sendiri.
Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari
keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.
Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan,
tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat
sang pria jatuh hati.
Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan
membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua
sang pria tidak menyukai wanita tersebut. Sebagai orang yang terpandang di
kota tersebut, latar belakang wanita tersebut akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang
belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orangtuanya agar
menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk
anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tersebut, yang menurut mereka
akan sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk
meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan,
tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika
saatnya tiba, sang orangtua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat
oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian
dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut
mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka
hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan
tercemar, orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang
akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.
Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar
wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi,
dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai
hidupnya di tempat lain.
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan
bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi
menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya.
Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.
Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan
sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah
dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak
bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah
memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya
hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji
setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi
penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat
lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita
yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara
moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia
menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk
melahirkan dan membesarkan anaknya.
Detik .. Menit …. Jam …. Hari …. Minggu ………Tahun …… Tak terasa Tiga tahun
telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya
seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai
kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri
rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai
dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil
menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia
menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di
sisi anaknya setiap saat.
Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Di usia tiga
tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi.
Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di
rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis
seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum
cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun
yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan,
untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari
obat-obatan herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu
hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang
sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak
mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan
belum terbayar.
Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak
permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya,
ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya,
sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan
dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar
tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan
sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil
dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang
teramat sangat?..
Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu
tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya
langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu
………… .
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,
cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu,
mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan
bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di
Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari
mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang
memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu
ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk
sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu, bulan depan
adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan,
yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah
toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam
tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu
mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.
Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena
ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik
toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius.
Ternyata, bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan
tersebut. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main.
Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan
uang itu? Bukan mencuri kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah
hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah.
Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah,
uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit,
tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia
akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak
tersebut.
Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera
memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut.
Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini
memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang
untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.
“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu
mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya
berklai-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah
mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah
mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada
anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia
sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan
anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke
rumah tersebut heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya.
“Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu,
ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera
menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke
arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada
ibunya.
“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.
Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di
tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut,
dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya,
katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan
bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak
jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam
tangan kesukaan ibunya.
Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut,
begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”
“Tidak Bu, saya yang bersalah”
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya
mandul. Mereka tidak punya anak. Sang orangtua sangat sedih akan hal ini,
karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan
anaknya berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu
dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia
sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung
ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu
menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.
Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin
melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau
kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak
membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia
tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak
menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan
anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai
perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota,
bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan
lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak,
sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama
sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak.
Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin
dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu.
“Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama-sama dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang
ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak
meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan
kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang
anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak
dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata
“Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan
nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau
ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau
saya lagi”, sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak
didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sedu “Kalau ibu
sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa
dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”,
ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya
meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara
isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan
satu-satunyanya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak
akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa
anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan,
demi anaknya juga……….
Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
perawatan medis secara rutin setiap bulan. Seperti biasa, sang anak ingat
akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa
perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tersebut, sepulang
dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa
tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah
mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari
merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian
yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.
Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga
mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi.
Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut,
menangis “Ibu benar-benar tidak menginginkan saya lagi.”
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari
ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya.
Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik
mobil menuju rumah tersebut. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang
tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya.
Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut
anaknya dalam surat itu.
Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya
pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tersebut. Ibunya pernah berkata,
bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang
welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya
memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tersebut untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya
tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah
sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan
berguling-guling jatuh ke bawah……….
Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia
sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari
tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan
uang untuk mencari ibunya kemana-mana, tetapi hasilnya nihil.
Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tersebut terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit. Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan
turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu.
Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta
sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat
anakku?”. Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia
segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan,
tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah.
Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tersebut saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis
tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu
bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak
ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur
membasahi bumi …………… .
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang
ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,
tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai
orang gila.
Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan
rela mengorbankan nyawanya.. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut
ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku
sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
Diantara orang-orang disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung
Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ………..
Sumber : www.henlia.com
Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari
keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.
Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan,
tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat
sang pria jatuh hati.
Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan
membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua
sang pria tidak menyukai wanita tersebut. Sebagai orang yang terpandang di
kota tersebut, latar belakang wanita tersebut akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang
belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orangtuanya agar
menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk
anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tersebut, yang menurut mereka
akan sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk
meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan,
tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika
saatnya tiba, sang orangtua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat
oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian
dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut
mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka
hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan
tercemar, orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang
akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.
Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar
wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi,
dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai
hidupnya di tempat lain.
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan
bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi
menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya.
Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.
Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan
sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah
dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak
bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah
memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya
hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji
setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi
penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat
lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita
yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara
moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia
menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk
melahirkan dan membesarkan anaknya.
Detik .. Menit …. Jam …. Hari …. Minggu ………Tahun …… Tak terasa Tiga tahun
telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya
seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai
kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri
rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai
dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil
menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia
menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di
sisi anaknya setiap saat.
Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Di usia tiga
tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi.
Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di
rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis
seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum
cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun
yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan,
untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari
obat-obatan herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu
hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang
sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak
mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan
belum terbayar.
Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak
permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya,
ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya,
sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan
dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar
tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan
sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil
dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang
teramat sangat?..
Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu
tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya
langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu
………… .
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,
cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu,
mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan
bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di
Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari
mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang
memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu
ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk
sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu, bulan depan
adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan,
yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah
toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam
tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu
mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.
Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena
ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik
toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius.
Ternyata, bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan
tersebut. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main.
Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan
uang itu? Bukan mencuri kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah
hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah.
Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah,
uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit,
tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia
akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak
tersebut.
Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera
memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut.
Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini
memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang
untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.
“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu
mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya
berklai-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah
mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah
mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada
anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia
sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan
anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke
rumah tersebut heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya.
“Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu,
ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera
menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke
arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada
ibunya.
“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.
Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di
tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut,
dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya,
katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan
bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak
jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam
tangan kesukaan ibunya.
Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut,
begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”
“Tidak Bu, saya yang bersalah”
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya
mandul. Mereka tidak punya anak. Sang orangtua sangat sedih akan hal ini,
karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan
anaknya berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu
dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia
sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung
ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu
menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.
Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin
melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau
kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak
membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia
tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak
menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan
anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai
perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota,
bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan
lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak,
sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama
sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak.
Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin
dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu.
“Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama-sama dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang
ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak
meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan
kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang
anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak
dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata
“Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan
nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau
ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau
saya lagi”, sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak
didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sedu “Kalau ibu
sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa
dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”,
ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya
meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara
isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan
satu-satunyanya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak
akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa
anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan,
demi anaknya juga……….
Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
perawatan medis secara rutin setiap bulan. Seperti biasa, sang anak ingat
akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa
perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tersebut, sepulang
dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa
tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah
mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari
merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian
yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.
Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga
mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi.
Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut,
menangis “Ibu benar-benar tidak menginginkan saya lagi.”
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari
ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya.
Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik
mobil menuju rumah tersebut. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang
tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya.
Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut
anaknya dalam surat itu.
Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya
pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tersebut. Ibunya pernah berkata,
bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang
welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya
memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tersebut untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya
tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah
sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan
berguling-guling jatuh ke bawah……….
Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia
sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari
tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan
uang untuk mencari ibunya kemana-mana, tetapi hasilnya nihil.
Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tersebut terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit. Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan
turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu.
Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta
sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat
anakku?”. Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia
segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan,
tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah.
Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tersebut saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis
tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu
bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak
ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur
membasahi bumi …………… .
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang
ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,
tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai
orang gila.
Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan
rela mengorbankan nyawanya.. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut
ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku
sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
Diantara orang-orang disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung
Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ………..
Sumber : www.henlia.com
Khawatir, Cara menjemput kematian dengan perlahan-lahan
Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabatku yang baik, semoga pekan kedua dalam bulan kedua ini, mengantarkan
kita bersama, menuju pintu gerbang istana kebaikan. Sehingga kitalah menjadi
penghuninya. Karena hanya orang baik saja boleh masuk kedalamnya.
Seorang penyair mengingatkan, Janganlah engkau meninggal sebelum ajal
menjemputmu. Pesannya barangkali sudah terbiasa kita ucapkan. Telinga sudah
amat sering mendengar bunyi nada-nada bijak itu. Tapi, sungguh hebatnya
anugerah fikiran, meskipun difahami. Walaupun sering didengar, terkadang
tanpa disadari, menjadi zombi-zombi hidup amat sering kita jalani.
Maafkanlah atas kelancangan saya. Karena amat berani untuk
mengeneralisasikan. Seolah-olah semua kita pernah menjadi zombi atau abadi.
Karena saya yakin. Saat ini, telah ada diantara shahabat benar-benar telah
menjadi manusia seutuhnya. Para sufi memberi nama, kondisi hudhur.
Berbicara mengenai ajal. Sebaik apapun persiapan kita menyambut
kedatangannya. Ia pasti akan datang pada saat telah dijanjikan. Selupa
apapun kita akan kepastian kehadirannya, hal ini menjadi wajib hukumnya.
Bagi setiap yang bernyawa, akan dijemput oleh kematian.
Ada shahabat bertanya dengan lugas. Apa yang engkau khawatirkan? Pena telah
diangkat. Ketetapan telah dituliskan. Qadha dan Qadar telah dipastikan.
Menjawab tiada yang kukhawatirkan, terkadang bentuk dari pembohongan diri.
Lisan berbunyi; aku mengkhawatirkan masa depanku, bukti kelemahan iman.
Astaqfirullah. Kami berlindung dan memohon ampun hanya kepadaMu ya Qhaffar.
Menariknya, terkadang hal-hal yang sebelum aku jalani. Aku hiasi ia dengan
rasa khawatir itu, entah dimana posisinya? Saat aku melangkah, menjalani,
dan melakukan ikhtiarku. Sehingga aku benar-benar memahami, kekhawatiran
adalah langkah-langkah bunuh diri, tahapan-tahapan menjembut kematian yang
amat perlahan-lahan.
Hal ini semakin membuatku bertanya-tanya dan mencari hakekat khawatir. Aku
duduk terdiam, mencoba menyelami kembali, setiap pos-pos kehidupan yang
pernah aku singgahi. Dari setiap episode kehidupan, aku menemukan benang
merah kehidupan : Habis Gelap terbitlah terang. Almarhum Crisye dengan indah
melantunkan, Badai pasti berlalu.
Rasa khawatir adalah hasil buah fikiran, bertujuan untuk memproteksi tubuh
dari bahaya. Sehingga ia beri signal dengan gejala-gejala : keringat, perut
perih, pandangan agak kabur, kepala senut-senut dan berbagai bentuk kreasi
lainnya.
Jika memang demikian wujudnya. Bukankah ajakan-ajakan pejalan spiritual amat
wajar untuk diikuti. Sadar.
Shahabat, khawatir adalah kejadian, masa, waktu dan ketetapan yang belum
menghadiri kita. Ia sering kita beri judul dengan hal-hal yang kurang
senang, tidak berkenan untuk kita terima. Tetapi, bukankah hal-hal yang amat
kita senangi, kita berkenan atas kedatanganya, kita menkondisikan dengan
kebahagiaan dan penuh harapan?
Seorang shahabat mengajak kita merenungi dan tinjau kembali sejenak. Bukankah
ia wujud yang sama. Yaitu peristiwa yang akan datang? Bearti, ini
adalah *persepsi
dan buah fikiran, yang dihasilkan oleh sudut pandang dan cara menyikapi akan
masa depan, betul*? Maafkan ia yang suka bertanya.
”*Aku sebagaimana prasangka hambaKu*”.
Jika memang demikian, anjuran berprasangka baik, ajakan berharap keindahan,
dan seruan berkeinginan kebaikan. Pantaslah bila kita tempatkan pada tatanan
kewajiban. Adakah sahabat yang merubah persepsi (cara menyikapi/cara
memandang) sekarang?...
--
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Mind-Therapist
www.facebook.com/rahmadsyahI YM ; rahmad_aceh
Shahabatku yang baik, semoga pekan kedua dalam bulan kedua ini, mengantarkan
kita bersama, menuju pintu gerbang istana kebaikan. Sehingga kitalah menjadi
penghuninya. Karena hanya orang baik saja boleh masuk kedalamnya.
Seorang penyair mengingatkan, Janganlah engkau meninggal sebelum ajal
menjemputmu. Pesannya barangkali sudah terbiasa kita ucapkan. Telinga sudah
amat sering mendengar bunyi nada-nada bijak itu. Tapi, sungguh hebatnya
anugerah fikiran, meskipun difahami. Walaupun sering didengar, terkadang
tanpa disadari, menjadi zombi-zombi hidup amat sering kita jalani.
Maafkanlah atas kelancangan saya. Karena amat berani untuk
mengeneralisasikan. Seolah-olah semua kita pernah menjadi zombi atau abadi.
Karena saya yakin. Saat ini, telah ada diantara shahabat benar-benar telah
menjadi manusia seutuhnya. Para sufi memberi nama, kondisi hudhur.
Berbicara mengenai ajal. Sebaik apapun persiapan kita menyambut
kedatangannya. Ia pasti akan datang pada saat telah dijanjikan. Selupa
apapun kita akan kepastian kehadirannya, hal ini menjadi wajib hukumnya.
Bagi setiap yang bernyawa, akan dijemput oleh kematian.
Ada shahabat bertanya dengan lugas. Apa yang engkau khawatirkan? Pena telah
diangkat. Ketetapan telah dituliskan. Qadha dan Qadar telah dipastikan.
Menjawab tiada yang kukhawatirkan, terkadang bentuk dari pembohongan diri.
Lisan berbunyi; aku mengkhawatirkan masa depanku, bukti kelemahan iman.
Astaqfirullah. Kami berlindung dan memohon ampun hanya kepadaMu ya Qhaffar.
Menariknya, terkadang hal-hal yang sebelum aku jalani. Aku hiasi ia dengan
rasa khawatir itu, entah dimana posisinya? Saat aku melangkah, menjalani,
dan melakukan ikhtiarku. Sehingga aku benar-benar memahami, kekhawatiran
adalah langkah-langkah bunuh diri, tahapan-tahapan menjembut kematian yang
amat perlahan-lahan.
Hal ini semakin membuatku bertanya-tanya dan mencari hakekat khawatir. Aku
duduk terdiam, mencoba menyelami kembali, setiap pos-pos kehidupan yang
pernah aku singgahi. Dari setiap episode kehidupan, aku menemukan benang
merah kehidupan : Habis Gelap terbitlah terang. Almarhum Crisye dengan indah
melantunkan, Badai pasti berlalu.
Rasa khawatir adalah hasil buah fikiran, bertujuan untuk memproteksi tubuh
dari bahaya. Sehingga ia beri signal dengan gejala-gejala : keringat, perut
perih, pandangan agak kabur, kepala senut-senut dan berbagai bentuk kreasi
lainnya.
Jika memang demikian wujudnya. Bukankah ajakan-ajakan pejalan spiritual amat
wajar untuk diikuti. Sadar.
Shahabat, khawatir adalah kejadian, masa, waktu dan ketetapan yang belum
menghadiri kita. Ia sering kita beri judul dengan hal-hal yang kurang
senang, tidak berkenan untuk kita terima. Tetapi, bukankah hal-hal yang amat
kita senangi, kita berkenan atas kedatanganya, kita menkondisikan dengan
kebahagiaan dan penuh harapan?
Seorang shahabat mengajak kita merenungi dan tinjau kembali sejenak. Bukankah
ia wujud yang sama. Yaitu peristiwa yang akan datang? Bearti, ini
adalah *persepsi
dan buah fikiran, yang dihasilkan oleh sudut pandang dan cara menyikapi akan
masa depan, betul*? Maafkan ia yang suka bertanya.
”*Aku sebagaimana prasangka hambaKu*”.
Jika memang demikian, anjuran berprasangka baik, ajakan berharap keindahan,
dan seruan berkeinginan kebaikan. Pantaslah bila kita tempatkan pada tatanan
kewajiban. Adakah sahabat yang merubah persepsi (cara menyikapi/cara
memandang) sekarang?...
--
Sumber: RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Mind-Therapist
www.facebook.com/rahmadsyahI YM ; rahmad_aceh
Ajarkan untuk berhemat kepada anak sejak dini!
dear tenaga pendidik dan orangtua,
Sulitnya menolak permintaan buah hati membuat sebagian orangtua stres. Belum lagi, kebutuhan mereka semakin hari, semakin banyak. Aaah... pusingg!
Sebagai orangtua, mau tak mau kita harus mengajarkan dan memperkenalkan cara hidup hemat kepada anak -anak. Kita juga harus memberi pengetahuan pentingnya menabung agar mereka tak terseret arus konsumerisme. Oleh karena itu, penting bagi orangtua melakukan seperti hal di bawah ini.
1. Membuat Prioritas
Kita berikan penjelasan kepada anak, apa saja kebutuhan kita sekarang ini. Misalnya dalam kurun waktu sebulan, apa yang sangat dibutuhkan dalam keluarga. Contoh, membeli sepatu kakak yang sudah rusak dan harus diganti.
Jelaskan dengan sesuai nalarnya, apa yang harus terlebih dulu dibeli dibanding benda yang anak inginkan. Hal ini untuk membiasakan anak memahami, kebutuhan apa yang harus didahulukan.
2. Menunjukkan Daftar Belanja
Saat berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari, entah ke pasar tradisional atau supermarket, bisa mengajak anak bila tak merepotkan.
Kita tunjukkan kepada anak daftar belanja yang sudah kita buat. Dan katakan, “Ibu hanya membeli kebutuhan yang sudah ibu catat di kertas ini.” Sehingga anak belajar, bahwa berbelanja pun perlu perencanaan.
3. Mengenalkan Kartu ATM
Jika anak diajak ke gerai ATM untuk mengambil uang, mungkin dia mengira bahwa kita ‘tukang sulap’. Cukup memasukkan kartu ke mesin, lalu keluarlah uang.
Katakan pada buah hati, meski mudah mengambil uang saat butuh, tetap harus diperhitungkan. Struk atau kertas cetak dari ATM akan dicatat di buku sehingga pengeluaran uang tetap dikontrol dan tidak bisa semaunya saja.
4. Tidak Lapar Mata
Lapar mata adalah istilah tidak tahan melihat barang yang terpajang di etalase atau toko-toko. Anak-anak pun bisa tergiur jika melintasi toko mainan. Kita ajak anak untuk menahan diri.
Bisa kita katakan, mainan seperti itu masih banyak persediaan dan Mama akan membelikan pada saat yang tepat. Lihatlah beberapa hari kemudian. Bila ia melupakannya, berarti anak hanya menginginkan sesaat saja.
5.Pilih Alternatif Tempat Jalan-jalan
Bukannya hendak melarang untuk pergi ke mal. Tetapi paling tidak, kita mengurangi bepergian jalan-jalan ke sana.
Sebab, setiap waktu ada saja barang baru yang hadir di sana dan bisa membuat kita tergiur untuk membelinya. Begitu pun pada anak-anak. Ada banyak pilihan mengisi waktu selain mengajak mereka jalan-jalan di mal.
6. Menabung Uang Receh
Jika anak memiliki uang receh, biasakan untuk masukkan dalam celengan. Bila sudah banyak, bisa ditukar ke bank. Atau, kita sebagai orangtua membuatkan buku tabungan baginya.
Setiap ada uang yang dia peroleh dari nenek, kakek, atau kerabatnya, bisa ditabung di bank. Anak akan bangga memiliki buku tabungan sendiri, dan ajaklah untuk merencanakan sesuatu dengan hasil tabungannya
Artikel ini dapat dilihat melalui : http://www.kidnesia .com/Kidnesia/ Parents-Area/ Tips/Berhemat- Yuk!
Sulitnya menolak permintaan buah hati membuat sebagian orangtua stres. Belum lagi, kebutuhan mereka semakin hari, semakin banyak. Aaah... pusingg!
Sebagai orangtua, mau tak mau kita harus mengajarkan dan memperkenalkan cara hidup hemat kepada anak -anak. Kita juga harus memberi pengetahuan pentingnya menabung agar mereka tak terseret arus konsumerisme. Oleh karena itu, penting bagi orangtua melakukan seperti hal di bawah ini.
1. Membuat Prioritas
Kita berikan penjelasan kepada anak, apa saja kebutuhan kita sekarang ini. Misalnya dalam kurun waktu sebulan, apa yang sangat dibutuhkan dalam keluarga. Contoh, membeli sepatu kakak yang sudah rusak dan harus diganti.
Jelaskan dengan sesuai nalarnya, apa yang harus terlebih dulu dibeli dibanding benda yang anak inginkan. Hal ini untuk membiasakan anak memahami, kebutuhan apa yang harus didahulukan.
2. Menunjukkan Daftar Belanja
Saat berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari, entah ke pasar tradisional atau supermarket, bisa mengajak anak bila tak merepotkan.
Kita tunjukkan kepada anak daftar belanja yang sudah kita buat. Dan katakan, “Ibu hanya membeli kebutuhan yang sudah ibu catat di kertas ini.” Sehingga anak belajar, bahwa berbelanja pun perlu perencanaan.
3. Mengenalkan Kartu ATM
Jika anak diajak ke gerai ATM untuk mengambil uang, mungkin dia mengira bahwa kita ‘tukang sulap’. Cukup memasukkan kartu ke mesin, lalu keluarlah uang.
Katakan pada buah hati, meski mudah mengambil uang saat butuh, tetap harus diperhitungkan. Struk atau kertas cetak dari ATM akan dicatat di buku sehingga pengeluaran uang tetap dikontrol dan tidak bisa semaunya saja.
4. Tidak Lapar Mata
Lapar mata adalah istilah tidak tahan melihat barang yang terpajang di etalase atau toko-toko. Anak-anak pun bisa tergiur jika melintasi toko mainan. Kita ajak anak untuk menahan diri.
Bisa kita katakan, mainan seperti itu masih banyak persediaan dan Mama akan membelikan pada saat yang tepat. Lihatlah beberapa hari kemudian. Bila ia melupakannya, berarti anak hanya menginginkan sesaat saja.
5.Pilih Alternatif Tempat Jalan-jalan
Bukannya hendak melarang untuk pergi ke mal. Tetapi paling tidak, kita mengurangi bepergian jalan-jalan ke sana.
Sebab, setiap waktu ada saja barang baru yang hadir di sana dan bisa membuat kita tergiur untuk membelinya. Begitu pun pada anak-anak. Ada banyak pilihan mengisi waktu selain mengajak mereka jalan-jalan di mal.
6. Menabung Uang Receh
Jika anak memiliki uang receh, biasakan untuk masukkan dalam celengan. Bila sudah banyak, bisa ditukar ke bank. Atau, kita sebagai orangtua membuatkan buku tabungan baginya.
Setiap ada uang yang dia peroleh dari nenek, kakek, atau kerabatnya, bisa ditabung di bank. Anak akan bangga memiliki buku tabungan sendiri, dan ajaklah untuk merencanakan sesuatu dengan hasil tabungannya
Artikel ini dapat dilihat melalui : http://www.kidnesia .com/Kidnesia/ Parents-Area/ Tips/Berhemat- Yuk!
awaaaassss.. sindrom senin menyerang!
Apakah anda korban Sindrom Senin?
Sindrom yang biasa muncul hari Senin pagi ini ditandai oleh beberapa gejala, diantaranya bangun kesiangan, kepala terasa berat sewaktu bangun tidur, uring-uringan, sakit perut, migren, ban kempes (??), terlambat atau tidak masuk kantor sama sekali.
Perlu diwaspadai jika anda terkena Sindrom Senin tidak hanya pada hari Senin saja, tapi kumat di setiap hari kerja. Itu berarti anda sudah dalam stadium akut Sindrom Senin alias sudah bosaaaaaaaaan kerja di kantor.
Stop Sindrom Senin Sekarang!
Caranya? Buat daftar hal-hal yang anda sukai dari pekerjaan anda SELAIN GAJI. Cara ini terbukti sangat ampuh untuk mengurangi gejala Sindrom Senin dan menambah semangat kerja. Bisa teman kerja, suasana kantor, saat makan siang, pokoknya apa saja yang bisa menyenangkan hati anda di kantor
Masih bosan juga?
Berarti sudah saatnya anda bergerak mencari pekerjaan lain atau mungkin peluang usaha untuk memulai bisnis anda sendiri. Sangat penting bagi anda untuk bertindak secepatnya karena Sindrom Senin yang berkepanjangan bisa menurunkan prestasi kerja dan akhirnya….PHK mendadak.
Rosa S. Rustam
http://www.indoentr epreneur. com
Sindrom yang biasa muncul hari Senin pagi ini ditandai oleh beberapa gejala, diantaranya bangun kesiangan, kepala terasa berat sewaktu bangun tidur, uring-uringan, sakit perut, migren, ban kempes (??), terlambat atau tidak masuk kantor sama sekali.
Perlu diwaspadai jika anda terkena Sindrom Senin tidak hanya pada hari Senin saja, tapi kumat di setiap hari kerja. Itu berarti anda sudah dalam stadium akut Sindrom Senin alias sudah bosaaaaaaaaan kerja di kantor.
Stop Sindrom Senin Sekarang!
Caranya? Buat daftar hal-hal yang anda sukai dari pekerjaan anda SELAIN GAJI. Cara ini terbukti sangat ampuh untuk mengurangi gejala Sindrom Senin dan menambah semangat kerja. Bisa teman kerja, suasana kantor, saat makan siang, pokoknya apa saja yang bisa menyenangkan hati anda di kantor
Masih bosan juga?
Berarti sudah saatnya anda bergerak mencari pekerjaan lain atau mungkin peluang usaha untuk memulai bisnis anda sendiri. Sangat penting bagi anda untuk bertindak secepatnya karena Sindrom Senin yang berkepanjangan bisa menurunkan prestasi kerja dan akhirnya….PHK mendadak.
Rosa S. Rustam
http://www.indoentr epreneur. com
Langganan:
Postingan (Atom)