Cintailah Mama kita sebagai mana kita mencitai diri kita sendiri.
Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari
keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.
Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan,
tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat
sang pria jatuh hati.
Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan
membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua
sang pria tidak menyukai wanita tersebut. Sebagai orang yang terpandang di
kota tersebut, latar belakang wanita tersebut akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang
belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orangtuanya agar
menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk
anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tersebut, yang menurut mereka
akan sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk
meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan,
tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika
saatnya tiba, sang orangtua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat
oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian
dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut
mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka
hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan
tercemar, orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang
akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.
Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar
wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi,
dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai
hidupnya di tempat lain.
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan
bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi
menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya.
Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.
Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan
sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah
dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak
bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah
memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya
hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji
setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi
penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat
lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita
yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara
moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia
menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk
melahirkan dan membesarkan anaknya.
Detik .. Menit …. Jam …. Hari …. Minggu ………Tahun …… Tak terasa Tiga tahun
telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya
seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai
kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri
rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai
dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil
menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia
menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di
sisi anaknya setiap saat.
Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Di usia tiga
tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi.
Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di
rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis
seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum
cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun
yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan,
untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari
obat-obatan herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu
hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang
sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak
mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan
belum terbayar.
Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak
permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya,
ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya,
sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan
dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar
tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan
sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil
dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang
teramat sangat?..
Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu
tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya
langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu
………… .
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,
cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu,
mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan
bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di
Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari
mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang
memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu
ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk
sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu, bulan depan
adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan,
yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah
toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam
tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu
mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.
Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena
ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik
toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius.
Ternyata, bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan
tersebut. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main.
Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan
uang itu? Bukan mencuri kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah
hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah.
Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah,
uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit,
tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia
akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak
tersebut.
Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera
memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut.
Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini
memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang
untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.
“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu
mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya
berklai-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah
mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah
mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada
anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia
sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan
anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke
rumah tersebut heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya.
“Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu,
ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera
menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke
arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada
ibunya.
“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.
Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di
tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut,
dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya,
katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan
bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak
jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam
tangan kesukaan ibunya.
Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut,
begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”
“Tidak Bu, saya yang bersalah”
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya
mandul. Mereka tidak punya anak. Sang orangtua sangat sedih akan hal ini,
karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan
anaknya berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu
dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia
sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung
ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu
menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.
Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin
melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau
kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak
membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia
tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak
menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan
anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai
perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota,
bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan
lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak,
sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama
sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak.
Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin
dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu.
“Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama-sama dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang
ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak
meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan
kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang
anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak
dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata
“Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan
nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau
ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau
saya lagi”, sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak
didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sedu “Kalau ibu
sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa
dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”,
ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya
meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara
isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan
satu-satunyanya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak
akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa
anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan,
demi anaknya juga……….
Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
perawatan medis secara rutin setiap bulan. Seperti biasa, sang anak ingat
akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa
perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tersebut, sepulang
dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa
tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah
mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari
merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian
yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.
Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga
mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi.
Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut,
menangis “Ibu benar-benar tidak menginginkan saya lagi.”
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari
ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya.
Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik
mobil menuju rumah tersebut. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang
tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya.
Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut
anaknya dalam surat itu.
Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya
pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tersebut. Ibunya pernah berkata,
bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang
welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya
memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tersebut untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya
tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah
sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan
berguling-guling jatuh ke bawah……….
Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia
sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari
tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan
uang untuk mencari ibunya kemana-mana, tetapi hasilnya nihil.
Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tersebut terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit. Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan
turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu.
Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta
sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat
anakku?”. Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia
segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan,
tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah.
Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tersebut saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis
tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu
bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak
ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur
membasahi bumi …………… .
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang
ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,
tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai
orang gila.
Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan
rela mengorbankan nyawanya.. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut
ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku
sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
Diantara orang-orang disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung
Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ………..
Sumber : www.henlia.com
Senin, 10 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar